Cerita · sejak 2017
Sejauh mata memandang.
Saujana: sejauh mata memandang. Nama yang kami pilih karena setiap botol menyimpan satu pemandangan Nusantara.
Awalnya
Laksmi pulang dari Grasse dengan satu pertanyaan: kenapa minyak terbaik dunia disuling di Indonesia, tetapi parfumnya selalu bercerita tentang tempat lain?
Ia menghabiskan satu musim di Samarang, Garut, belajar menyuling akar wangi dari penyuling yang sudah tiga generasi. Tiga parfum pertama lahir di dapur rumahnya di Tebet.
Saujana masih bekerja dengan cara yang sama: membeli langsung, mengunjungi ladang, dan tidak terburu-buru.
Perjalanan
- 2017
Laksmi meracik tiga parfum pertama di dapur rumahnya di Tebet. Akar terjual habis dalam satu bazar.
- 2018
Kemitraan pertama: koperasi penyuling akar wangi di Samarang, Garut.
- 2020
Atelier Kemang dibuka, dengan organ parfum berisi 214 bahan.
- 2022
Pala Banda dan Kenanga melengkapi koleksi tetap menjadi enam parfum.
- 2024
Aroma ruang pertama untuk sebuah hotel butik di Ubud.
- 2026
Sebelas mitra penyuling di sepuluh provinsi; isi ulang untuk semua parfum.
Orang-orangnya
Tiga orang, satu hidung.
-
Laksmi Pramesti
Pendiri & perfumer
Belajar komposisi di Grasse, pulang ke Garut untuk belajar menyuling dari penyuling akar wangi. Meracik keenam parfum Saujana.
-
Bima Aditya Nugroho
Kemitraan penyulingan
Mengunjungi sebelas mitra penyuling dua kali setahun, menguji setiap lot minyak sebelum masuk atelier.
-
Rani Hutagalung
Kepala atelier
Memandu kelas Racik dan menemani klien parfum pesanan dari sesi pertama sampai botol terakhir.
- 11
- mitra penyuling di 10 provinsi
- 8
- minggu maserasi untuk setiap batch
- 300
- botol per batch, diisi dengan tangan
- 22 %
- konsentrasi minyak, eau de parfum


